Selasa, 15 Desember 2009

bush belum berakhir

20 Januari 2009, George Walker Bush resmi lengser dari jabatannya sebagai presiden Amerika yang kemudian digantikan oleh penerusnya, Barack Hussein Obama. Banyak yang menyebut, lengsernya Bush akan membawa perubahan besar pada perdamaian dunia, mengapa? Sejak Bush menjabat sebagai presiden AS, ia menggunakan jabatannya sebagai presiden negara "adidaya" tersebut untuk memprovokasi negara-negara besar untuk membumihanguskan negara-negara Timur Tengah.


Masih ingatkah agresi militer ke Irak atas memorandum Mr. Bush?
Pada agresi yang dilancarkan sejak tahun 2003 tersebut, Bush menyerang Irak atas dalih Saddam Hussein (Presiden Irak pada saat itu) memiliki senjata pemusnah massal, padahal saat itu, Amerika tidak mendapat dukungan dari PBB untuk mengagresi Irak.

Irak pun diserang, Bagdad ditaklukan, Saddam Hussein di tangkap dan digantung, serta ratusan ribu orang mati akibat agresi tersebut, dan yang paling menyakitkan, ternyata senjata pemusnah massal itu tidak ada!!! Hanya angan dan alasan dari Bush serta Intelijen Amerika. Serangan yang konon terbesar pada abad 21 tersebut hanya didasarkan pada mimpi dengan dampak yang amat menyedihkan.




 

Banyak orang mengutuk agresi tersebut, meski banyak juga yang termakan provokasi Mr. Bush. Inggris, Italia, serta Perancis adalah sebagian besar negara yang ikut mendukung agresi tersebut. Keberhasilan Bush menghancurkan negara Timur Tengah membuatnya dibenci dan dikecam orang banyak, namun itu tidak membuat ambisi Bush untuk menghancurkan negara-negara Timur Tengah.

Salah satu orang yang membenci Bush adalah seorang wartawan Al-Baghdadiyah, Al Zeidi. Saat itu, Bush sedang memberikan pidato keempatnya pasca penggulingan Saddam Hussein dari jabatannya sebagai presiden Irak. Al Zeidi yang sangat membenci Bush lantaran instruksinya menghancurkan negara Irak yang notabene merupakan negara Al Zeidi sendiri. Ketika itu di saat Bush memberikan pidato, Al Zeidi dengan cepat melepas sepatunya kemudian melemparkannya ke arah Bush. Wuuuussssss!!!! Lemparannya meleset karena Bush mengelak, tidak sampai disitu, Al Zeidi mencoba kesempatan kedua dengan menggunakan sepatu kanannya, wuuussss!!! Lagi-lagi Bush selamat dari lemparan tersebut, kontan bodyguard Bush menyergap Al Zeidi yang kemudian ditangkap dan diadili di Baghdad.




Wartawan itu seperti ingin menghukum Bush. Ia tidak menyia-nyiakan peluang saat berada dekat dengan Bush, walaupun berada dalam penjagaan yang ketat. "Ini adalah akhirnya!!!", begitu teriaknya Al Zeidi kemudian melempar sepatunya ke arah Bush. Setelah diamankan, Al Zeidi kembali mengumpat yang terdengar dari ruangan lain di gedung tersebut, "Itu adalah ciuman perpisahan!!! Kamu Anjing!!!".

Tapak sepatu sendiri dianggap sebagai penghinaan terbesar dalam budaya Arab. Setelah patung Saddam Hussein dirobohkan di Bagdad pada April 2003, banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka.

Namun dengan angkuhnya, Bush menganggap itu bukan suatu ancaman buatnya. Bush menganggap perjanjian keamanan AS-Irak yang menetapkan penarikan pasukan Amerika pada akhir 2011 sebagai "kenangan persahabatan kita dan cara untuk membantu rakyat Irak menyadari berkah menjadi masyarakat yang bebas". Namun semua itu omong kosong dan pembunuhan akan terus berlanjut.


Walaupun saat ini Bush telah lengser dari jabatannya, namun jejaknya masih terasa. Bush belum berakhir, sampai kapan pun akan terus mengancam negara-negara islam. Maka bersiaplah akan hasutan serta provokasinya. Ibarat Dajjal yang siap menjerumuskan umat manusia.

Senin, 07 Desember 2009

CHERNOBYL : Bencana Yang Akan Terus Dikenang

Sabtu, 26 April 1986, pukul 01:23:40 pagi waktu setempat, reaktor nomor empat pembangkit listrik tenaga nuklir kota Chernobyl yang terletak di Uni Soviet di dekat Pripyat, Ukraina meledak. Kontan penduduk kota Chernobyl dikagetkan dengan bunyi ledakan tersebut. Akibatnya, kebakaran dan radioaktif menyebar. Ribuan penduduk terpaksa diungsikan dari kota tersebut.

Sebagian kota hancur terkena ledakan, dan yang lebih nahas, radioaktif yang menyebar dari ledakan tersebut membuat para korban tidak bisa melupakan bencana ini.

Chernobyl merupakan kota kecil. Kota tersebut dijadikan pusat reaktor PLTN Uni Soviet. Reaktor Chernobyl jenis RBMK didirikan di atas tanah rawa di sebelah utara Ukraina, sekitar 80 mil sebelah utara Kiev. Reaktor unit 1 mulai beroperasi pada 1977, unit 2 pada 1978, unit 3 pada 1981, dan unit 4 pada 1983. Sebuah kota kecil, Pripyat, dibangun dekat PLTN Chernobyl untuk tempat tinggal pekerja pembangkit itu dan keluarganya.

Tipe PLTN Chernobyl dirancang untuk menghasilkan “plutonium” guna pembuatan senjata nuklir serta listrik. Tipe PLTN berfungsi ganda seperti ini tidak ada di negara-negara Barat, seperti, AS dan Prancis, yang merupakan negara pioner PLTN di samping Uni Soviet (pada waktu itu) sebagai pioner pertama.


Secara garis besar, bencana Chernobyl dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada 25 April 1986 reaktor unit 4 direncanakan dipadamkan untuk perawatan rutin. Selama pemadaman berlangsung, teknisi akan melakukan tes untuk menentukan apakah pada kasus reaktor kehilangan daya turbin dapat menghasilkan energi yang cukup untuk membuat sistem pendingin tetap bekerja sampai generator kembali beroperasi.

Proses pemadaman dan tes dimulai pukul 01.00 pada 25 April. Untuk mendapatkan hasil akurat, operator memilih mematikan beberapa sistem keselamatan, yang kemudian pilihan ini yang membawa malapetaka. Pada pertengahan tes, pemadaman harus ditunda selama sembilan jam akibat peningkatan permintaan daya di Kiev. Proses pemadaman dan tes dilanjutkan kembali pada pukul 23.10 25 April. Pada pukul 01.00, 26 April, daya reaktor menurun tajam, menyebabkan reaktor berada pada situasi yang membahayakan. Operator berusaha mengompensasi rendahnya daya, tetapi reaktor menjadi tak terkendali. Jika sistem keselamatan tetap aktif, operator dapat menangani masalah, namun mereka tidak dapat melakukannya dan akhirnya reaktor meledak pada pukul 01.30.


Kecelakaan PLTN Chernobyl masuk level ke-7 (level paling atas) yang disebut major accident, sesuai dengan kriteria yang ditentukan INES (The International Nuclear Event Scale). Di samping kesalahan operator yang mengoperasikannya di luar SOP (standard operation procedure), PLTN Chernobyl juga tidak memenuhi standar desain sebagaimana yang ditentukan oleh IAEA (International Atomic Energy Agency). PLTN Chernobyl tidak mempunyai kungkungan reaktor sebagai salah satu persyaratan untuk menjamin keselamatan jika terjadi kebocoran radiasi dari reaktor. Apabila PLTN Chernobyl memiliki kungkungan maka walaupun terjadi ledakan kemungkinan radiasi tidak akan keluar ke mana-mana, tetapi terlindung oleh kungkungan. Atau bila terjadi kebocoran tidak separah dibandingkan dengan tidak memiliki kungkungan.




Secara perinci, kecelakaan itu disebabkan, pertama, desain reaktor, yakni tidak stabil pada daya rendah - daya reaktor bisa naik cepat tanpa dapat dikendalikan. Tidak mempunyai kungkungan reaktor (containment). Akibatnya, setiap kebocoran radiasi dari reaktor langsung ke udara. Kedua, pelanggaran prosedur. Ketika pekerjaan tes dilakukan hanya delapan batang kendali reaktor yang dipakai, yang semestinya minimal 30, agar reaktor tetap terkontrol. Sistem pendingin darurat reaktor dimatikan. Tes dilakukan tanpa memberitahukan kepada petugas yang bertanggung jawab terhadap operasi reaktor.
Ketiga, budaya keselamatan. Pengusaha instalasi tidak memiliki budaya keselamatan, tidak mampu memperbaiki kelemahan desain yang sudah diketahui sebelum kecelakaan terjadi.
Penilaian atas berbagai kelemahan PLTN Chernobyl menghasilkan evaluasi internasional bahwa jenis kecelakaan seperti ini tidak akan mungkin terjadi pada jenis reaktor komersial lainnya. Evaluasi ini ditetapkan demikian karena mungkin berdasarkan analisis jenis reaktor lain yang memenuhi persyaratan keselamatan yang tinggi, termasuk budaya keselamatan yang dimiliki para operator sangat tinggi.


Dampak Kecelakaan

Pada 2003, IAEA membentuk “Forum Chernobyl” bekerja sama dengan organisasi PBB lainnya, seperti WHO, UNDP, ENEP, UN-OCHA, UN-SCEAR, Bank Dunia dan ketiga pemerintahan Belarusia, Ukraina, dan Rusia. Forum ini bekerja untuk menjawab pertanyaan, “sejauh mana dampak kecelakaan ini terhadap kesehatan, lingkungan hidup dan sosial ekonomi kawasan beserta penduduknya.” Laporan ini diberi nama “Cherno- byl Legacy”.


Diperkirakan semula dampak fisik akan begitu dahsyat. Artinya, akan menimbulkan korban jiwa yang luar biasa banyaknya. Namun, ternyata data sampai dengan 2006, jumlah korban yang meninggal 56 orang, di mana 28 orang (para likuidator terdiri dari staf PLTN, tenaga konstruksi, dan pemadam kebakaran) meninggal pada 3 bulan pertama setelah kecelakaan, 19 orang meninggal 8 tahun kemudian, dan 9 anak lainnya meninggal karena kanker kelenjar gondok.





Sebanyak 350.000 likuidator yang terlibat dalam proses pembersihan daerah PLTN yang kena bencana, serta 5 juta orang yang saat itu tinggal di Belarusia, Ukraina, dan Rusia, yang terkena kontaminasi zat radioaktif dan 100.000 di antaranya tinggal di daerah yang dikategorikan sebagai daerah strict control, ternyata mendapat radiasi seluruh badan sebanding dengan tingkat radiasi alam, serta tidak ditemukan dampak terhadap kesuburan atau bentuk-bentuk anomali.

 
 



http://members.greenpeace.org/gpblog/media/104097/chernobyl.jpg
Di sisi lain, hasil studi dan penelitian terhadap likuidator menunjukkan bahwa “tidak ada korelasi langsung antara kenaikan jumlah penderita kanker dan jumlah kematian per satuan waktu dengan paparan radiasi Chernobyl.


Kemudian pada 1992-2002 tercatat 4.000 kasus kanker kelenjar gondok yang terobservasi di Belarusia, Ukraina, dan Rusia pada anak-anak dan remaja 0-18 tahun ketika terjadi kecelakaan, termasuk 3.000 orang yang berusia 0-14 tahun. Selama perawatan mereka yang kena kanker, di Belarusia meninggal delapan anak dan di Rusia seorang anak. Yang lainnya selamat.
http://blogs.guardian.co.uk/politics/chernobyl_sarcophagus_440.jpg


Berdasarkan laporan “Chernobyl Lecacy”, sebagian besar daerah pemukiman yang semula mendapat kontaminasi zat radioaktif karena kecelakaan PLTN Chernobyl telah kembali ke tingkat radiasi latar, seperti sebelum terjadi kecelakaan. Dampak psikologis adalah yang paling dahsyat, terutama trauma bagi mereka yang mengalaminya seperti stres, depresi, dan gejala lainnya yang secara medis sulit dijelaskan.

Akibat kecelakaan itu, IAEA dan semua negara yang memiliki PLTN membangun konsensus internasional untuk selalu menggalang dan memutakhirkan standar keselamatan. Di sisi lain, pihak yang anti-PLTN telah menggunakan isu kecelakaan di Chernobyl sebagai bahan kampanye untuk menolak kehadiran PLTN, termasuk di Indonesia, dengan berbagai informasi yang keliru karena ketidaktahuan akan kebenaran informasi sebab terjadinya kecelakaan Chernobyl.

Belajar dari kecelakaan Chernobyl, IAEA telah menetapkan standar tambahan untuk memperkuat syarat keselamatan yang tinggi bagi pembangunan dan pengoperasian PLTN, antara lain, perbaikan desain sampai pada generasi ke-4, aturan main dalam bentuk basic safety, dan berbagai konvensi keselamatan.


Bencana ini sendiri menelan kerugian hingga mencapai $ 200 milyar, dan menjadi bencana termahal di dunia.